2. Kebohongan atau Jebakan

Màu nền
Font chữ
Font size
Chiều cao dòng

"Temuilah aku besok setelah matahari terbenam."

Gadis itu tersenyum di terpa mentari senja. Sunsine yang ada di dekatnya terpesona melihat gadis yang di cintainya berada di hadapannya.

"Pasti akan aku datang lebih awal."

Sunsine pikir dia akan bermimpi indah karena akan bertemu dengan gadis yang di sukainya. Tapi tidaklah semanis yang ia impikan. Kenyataan tidaklah semanis itu, justru ia harus menghadapi kepahitan dari kesalahan orang lain.

***

Keesokan harinya, saat di rumah Sunsine mendapat berita jika ada kecelakaan lalu lintas di dekat rumah Emilia (gadis yang di sukainya). Seketika dia langsung menelepon rumah Emilia, menanyakan kabarnya.

"Halo, Emilia. Apa kau baik-baik saja? Siapa yang kecelakaan?"

Dari balik telepon itu terdapat jeda beberapa saat sebelum suara seorang gadis membalas telepon Sunsine.

"Halo, aku baik-baik saja kok. Itu tetangga yang kena tabrak lari."

"Syukurlah."

Setelahnya Sunsine mendengar suara orang yang terengah-engah. Dia jadi mulai khawatir dengan Emilia.

"Emilia, apa kau sakit?"

"Tidak."

Sunsine semakin curiga dengan suara Emilia yang serak.

"Sebaiknya kau istirahat, nanti 'kan ku jemput kau di rumah."

"Tidak apa, aku bisa berangkat sendiri."

"Jangan paksakan dirimu."

"Baiklah."

Sunsine menutup teleponnya dan menuju kamar untuk bersiap menjemput Emilia. Sebelum ia berangkat Sunsine sempat bertemu dengan orang tuanya yang bingung kemana dia akan pergi dengan pakaian serapi itu.

"Sunsine kau mau kemana?"

"Aku mau ke rumah Emilia, bu."

Ibunya seketika memandang ayah Sunsine dengan tatapan khawatir. Ayah Sunsine paham akan situasinya dan menenangkan istrinya.

"Sunsine, semoga kau tegar," pesan Ayah Sunsine.

Sunsine sendiri bingung, kenapa ayahnya berkata seperti itu? Ia pun mengiyakan begitu saja dan pergi keluar. Sunsine menuju garasi untuk mengambil motornya. Sebelum ia menstater motornya tetiba ada pesan masuk dari ponselnya. Tertera nama Emilia di kolom pesan tersebut.

From Emilia
To Sunsine

Aku sudah di tempat biasa kau bisa langsung kemari saja, tidak perlu ke rumahku.

>Salam Emilia

___

Sunsine terkejut saat ia di kirimi pesan seperti itu. Perasaan beberapa menit lalu ia sedang menelpon ke rumahnya dan yang mengangkat telpon itu Emilia sendiri. Terus bagaimana Emilia bisa secepat itu sampainya?

Sunsine mencoba berfikir positif dan buru-buru melajukan motornya menuju tempat dimana ia akan bertemu dengan Emilia.

Tempat yang di maksud adalah taman bunga yang berada di pusat kota. Tempat itu cukup luas dan sering di kunjungi orang untuk sekedar jalan-jalan. Waktu sudah menunjuk pukul 17.45 sore dan hari semakin larut.

Jalanan di sekitarnya juga mulai sedikit yang berlalu-lalang. Motor Sunsine melaju menuju jalanan kota dan memarkirkan di depan taman kota. Sunsine melepas helmnya, buru-buru berlalu masuk menuju taman. Kini ia menuju taman bagian paling belakang.

Di antara redupnya lampu taman itu terdapat seorang gadis yang duduk di salah bangku taman. Sunsine yang mengenalinya langsung duduk di sampingnya.

"Apa kau lama menunggu?"

"Tidak."

Sunsine terkejut mendengar suara Emilia yang sama seraknya saat di telepon tadi. Saat ia perhatikan Emilia sepertinya kurang sehat. Tatapannya terlihat kosong dan ia tidak mengeluarkan expresi apapun. Wajahnya begitu datar.

"Sunsine, janjilah kau tidak akan takut denganku."

Sekarang Sunsine jadi tambah curiga dengan Emilia, nada suaranya jadi lebih serak dari yang sebelumnya. Terdengar seperti orang sekarat.

Yang lebih mengejutkan lagi tiba-tiba pakaian yang Emilia kenakan jadi lusuh dan terlihat compang camping dengan bersimbah darah. Raut wajahnya yang merah dengan satu mata yang masih utuh menyeringai ke arah Sunsine.

***

END

Penulis
Icarus2933

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Pro