Choose

Màu nền
Font chữ
Font size
Chiều cao dòng

Seoul, Korsel, 2021

"Mwo?" Diana menaikkan tekanan suaranya. Sebelah tangannya di atas meja restoran, perlahan mengepal.

Netra sipit sosok lelaki di depan Diana melirik ke arah sebelah tangannya yang mengepal itu, menukik senyum tanpa sopan santun.

"Sepertinya kau sangat menikmati drama ini?" sulut Diana seraya menatap sebal tukikan senyum lelaki di depannya itu.

"Hmm, sangat," sahut lelaki itu enteng.

"Aku sungguh merasa dibodohi selama ini," masygul Diana.

"Wae?" Nada bass lelaki itu mengangkat suara lagi.

"Selama ini aku kebanyakan mendengar cerita-cerita teman di kampus tentangmu tanpa cela sedikitpun. Katanya kau adalah seorang happy virus yang jika berada di dekatmu, mereka akan bahagia. Namun, nyatanya semua itu hanya bualan, omong kosong. Aku sungguh dibodohi oleh cerita-cerita mereka selama ini. Aku terkecoh. Kau tokoh publik, pasti banyak pencitraan yang kau lakukan." Kedua mata kelam Diana sinis.

"Tidak! Mereka benar. Bukan hanya sekedar julukan, aku memang seorang happy virus dan bukan hanya sekedar pencitraan. Itulah kenapa mereka sangat loyal kepadaku," sangkal lelaki itu. Tak luput tukikan senyum di bibirnya.

Diana tersenyum masam mendengar jawaban itu. "Tapi mengapa semakin lama berada di tempat ini denganmu, aku justru semakin merasa kesal?" ujarnya, membuang muka sembarang.

"Itu karena kau membangkang, Agassi."

"Mwo? Membangkang?" Diana langsung naik oktaf.

"Hmm."

"Di mana letak membangkangku?!" Gadis ras melayu ini, alias Diana semakin kesal.

"Kusuruh kau memilih dua opsi yang kuberikan, tapi kau justru membuat opsi lain sebagai pilihan. Bukankah itu termasuk sebuah pembangkangan, Agassi?" interupsi lelaki itu. Bisa saja mendalih.

"Aku membuat opsi lain karena dua opsimu itu tidak rasional." Diana mengatakannya dengan kilatan mata menajam.

"Tidak rasional?" Lelaki itu melipat dahinya.

Diana mengangguk. Melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya masih tetap menajam.

"Di mana letak tidak rasional itu? Aku hanya menyuruhmu mengganti rugi dalam dua opsi itu, Agassi."

Diana melerai lipatan kedua tangannya, mencondongkan wajahnya ke arah lelaki di depannya yang tersekat meja makan restoran dengan sikap menahan kesal.

"Ya! Kau hanya cedera ringan, Idol. Sebelah kakimu hanya terkilir biasa, keseleo, tapi kau justru menuntutku membayar ganti rugi hingga lima juta won secara tunai? Bukankah kau sebenarnya tengah memerasku, ya?!" sudut Diana. Kali pertamanya menyebut lelaki di hadapannya Idol. Iya, lelaki bawel di depannya itu memang sosok idol populer.

"Tidak, justru itu sebetulnya bukanlah bayaran yang setimpal. Kau tahu, selain suara, kaki juga adalah aset terbesarku dalam menata karir. Karena cedera itu, aku sangat rugi sebab tidak bisa menari saat konser SeChan di Thailand." Nada bass itu mencoba memberi pemahaman baru bagi Diana.

Seorang idol di depan Diana itu menunduk, tidak lagi berlaku menyebalkan meremehkan. Wajahnya yang oval tampak sedih.

"Mianhae, jeongmal mianhae ...," maaf Diana. Mendadak ia menjadi terenyuh, kasihan, sekaligus merasa bersalah.

Idol itu terlihat mengangkat wajahnya lagi, lalu sebelah tangan kokohnya meraih secangkir espresso yang mulai mengepul lemah.

"Tapi aku pun tidak menekankan kau memilih opsi pertama, Agassi. Memilih opsi kedua, itu lebih ringan. Pasalnya aku hanya membutuhkan seseorang yang pandai memasak untukku, lalu mencuci pakaian, merapikan kamarku, selebihnya ... aku mempunyai beberapa robot untuk menyelesaikan tugas lain. Bukankah itu ringan? Pula, aku akan tetap membayar jasamu." Kali ini idol itu menukik senyum hingga memamerkan lesung pipitnya. Bukan senyum meremehkan. Terlihat senyum tulus. Sepertinya.

"Tidak, sama saja itu seperti perbudakakan sekalipun aku dibayar karena ini paksaan dan aku juga tidak membutuhkan pekerjaan macam itu. Ya! Bisakah kita mengambil jalan lain? Bisakah aku membayar 5 juta won tetapi secara dicicil?" Mengajukan tawaran. Bibirnya yang semula cemberut, ia lerai untuk mengurva agar lelaki bongsor di depannya sedikit lebih bijak.

Idol itu menggeleng. Diana melenguh lesu.

"Lagi pula, aku juga tidak pandai memasak. Bukankah kau tadi mengatakan jika aku memilih opsi kedua, aku harus memasak untukmu? Mianhae, kau salah orang."

"Jangan berbohong."

"Mwo? Aku tidak berbohong. Memang demikian. Aku tidak pandai memasak!"

"Kau kursus memasak dengan Chef Kyung, 'kan?"

"Hmm, kenapa kau tahu?" Mendadak intonasi Diana melemah. Dahinya melipat samar.

Idol itu kumat lagi dengan tersenyum meremehkan.

"Apa kau lupa, kemarin kau membatalkan janji pertemuan sebelumnya dengan alasan tidak bisa absen mengikuti kursus memasak dengan Chef Kyung?"

Diana meneguk ludahnya. Agaknya ia lupa karena emosinya sekarang. Huf!

"Kau mau berdalih apa lagi, Dina?" Idol itu mencoba menyebut nama Diana untuk kali pertamanya di pertemuan ini. Namun gagal, malah menjadi menyebut Dina.

"Mianhae, namaku bukan Dina! Dan mengikuti kursus memasak Chef Kyung bukan berarti aku pandai memasak juga," sungut Diana. Lalu menyesap cokelat panas yang mulai dingin.

Idol itu melipat dahinya. "Kata managerku kau bernama Dina. Aish, rupanya dia memberiku informasi yang salah." Menggerutu. "Mianhae, namamu?" tanyanya sekaligus mengulurkan sebelah tangan kokohnya untuk berjabat tangan.

Sembari bergeming sejemang menatap uluran tangan itu, Diana akhirnya menimapali uluran tangan lelaki itu,  menjabat tangan sembari mengenalkan diri.

"Namaku Diana Hadid. Kau bisa memanggilku Diana bukan Dina. Atau memanggil Di pun tidak masalah." Diana mengulas senyum terbaik. Wajah ayunya khas gadis ras melayu tampak semringah.

Idol itu mengangguk seraya menimpal senyum. "Hmm, baiklah, Dina ...." Sembari mengeratkan jabatan tangan.

"Mianhae, namaku Diana. DI-A-NA!" Pengucapan akhir penuh penekanan. Meremas kuat jabatan tangan Chanyeon.

Idol itu tetap bergeming. Mengangkat sebelah alisnya. Terlihat berpikir.

"DI-A-NA!" ulang Diana. Ia tambah menekan nada ucapnya. Gemas sekali dengan satu manusia ini, semakin meremas jabatan tangan sebelum mengurainya.

Sekalipun sosok di depannya adalah seorang idol yang populer, Diana tidak peduli. Pasalnya pula idol satu ini sudah sangat menyebalkan dari awal pertemuan di pagi ini. Menyesal sekali ia mengindahkan dapat bertemu dengannya. Sehari waktu liburan musim gugur yang nahas dan sekarang ia sungguh menyesali kenapa malam itu yang menolongnya dari para preman pengganggu di sebuah jalan setapak justru sosok di depannya yang bertindak so' menjadi pahalwan. Menolongnya dengan berlagak so' keren dengan berakhir sebelah kakinya keseleo pula. Sekalipun--ia juga tidak memungkiri--idol satu ini berhasil membaku hantam mundur semua preman yang ada.

"Hmm, DI ... NA ..." Idol itu mencoba mengulangi sesuai intruksi Diana, tapi tetap saja. Asalnya ia ingin sekali memaki idol di depannya itu dengan mengumpat "Pabo!", tapi ia tanggalkan karena itu terlalu kasar dan pula mereka baru saja mengenal satu sama lain.

Iya, ia sungguh berani memaki idol satu ini jika saja lelaki jangkung ini tidak pernah menolongnya sebelumnya. Status idol, itu tak berarti baginya. Untuk sekarang, jika pun mengumpat, toh, tak ada siapapun yang tahu kecuali mereka berdua. Mereka memang tengah berada di sebuah restoran, tapi tak ada pengunjung lainnya selain mereka di restoran ala Italia ini yang bernuansa perpaduan konsep klasik dan modern industrial. Sekalipun masih bisa terekam CCTV, sih!

Tapi, benar tak ada satu pun pengunjung selain mereka di restoran ini. Pasalnya, restoran ini belum memasuki jam buka. Sebelumnya Chanyeon jelaslah sudah mengurus semuanya agar aman terkendali. Pula, ini restoran milik eomma-nya.

"Ya! Kau salah lagi, Idol. Kasihan sekali para fans-mu. Mereka ternyata tengah mengagumi sosok dengan pendengaran yang minim," timpal Diana. Setelah itu cepat-cepat menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Pura-pura salah bicara.

"Apa maksudmu, Agassi?" Tatapan idol itu menajam.

"Tidak. Mianhae, aku hanya salah bicara. Hanya saja aku kesal, kau salah menyebut namaku lagi, Idol. Aish!" Diana menyibakkan rambut hitam panjang tergerainya yang terasa menggerahkan di area lehernya. Terasa panas sekali pagi ini. Hari di musim dingin yang sungguh berbeda. Saking panasnya, sekarang ia ingin sekali melepas syal merah yang melingkari lehernya.

Idol itu, Chanyeon menghembuskan napas panjang. Ia menyempatkan menilik waktu di arlojinya yang melingkar di sebelah tangan.

"Baiklah, Agassi. Kita sudah terlalu banyak membuang waktu hanya berdebat soal menyebut namamu. Ini bukan murni kesalahanku. Managerku yang salah menginformasikan kepadaku jika namamu adalah Dina. Jadi, sekali lagi aku minta maaf, tapi ... sekarang kau hendak memilih opsi ke berapa?"

Chanyeon berlaku lebih lembut kali ini, sekalipun sama saja, itu tetap menyebalkan bagi Diana. Kesalahan managernya bagaimana, padahal manager itu saat menemuinya untuk mengatakan perihal pertemuan ini dapat menyebutnya dengan sangat baik dan sopan. " Nona Diana ...." Panggilan itu mendadak berdengung untuk menostalgia.

Diana mendiamkan Chanyeon. Sepasang manik matanya mengedar ke arah seberang meja duduknya. Tepatnya terfokus ke jendela kaca mozaik dengan dominasi varian warna pastel yang terinspirasi dari kota Venice di Italia, sesuai dengan konsep menu makanan di restoran ini. Ditambah dengan keanggunan luar dengan putihnya salju yang mendampar, pula yang terus menggugur. Mengagumkan.

"Agassi ...."

Diana tetap tak acuh. Ia memilih fokus ke arah itu, bahkan berhasil menukik senyum.

Chanyeon menyimak laku Diana itu, sosok berwajah khas melayu yang tempo beberapa hari lalu pernah ditolongnya dari gangguan para preman. Entah kenapa kali ini ia tidak marah seperti sebelumnya. Ia justru mengikuti alur gadis ras melayu ini yang mengenakan jaket puffer hitam di depannya. Turut menyimak salju yang berguguran, putih terhampar sepanjang mata memandang.

"Kau menyukainya?" Seperti lupa akan maksud awal tentang meluruskan pembicaraan pagi ini tentang memilih dua opsi itu, Chanyeon justru bertanya demikian.

Diana mengangguk pelan dengan senyum yang terus singgah.

"Bahagia itu simpel, ya? Dengan melihat jendela mozaik warna-warni pastel itu, hamparan putih di baliknya beserta salju yang terus menggugur, itu cukup membahagiakan," gumam Diana. Masih tetap menatap ke arah luar jendela di seberang mejanya itu.

Wajah Chanyeon beringsut perlahan menatap Diana beberapa saat. Ia merasa baru mengenal sosok lain Diana detik ini, setelah sebelumnya mereka berdua sempat berdebat sengit akan keegoisan yang dibuatnya. Gadis ras melayu itu memang tersenyum seraya menatap kagum, tapi kilatan mata bulatnya seperti tengah memendam kesedihan yang menekan hidupnya.

Chanyeon terenyuh. Memilih tetap diam. Membiarkan gadis di depannya menikmati kebahagiaan yang sederhana itu. Sempat pula, ia menjadi merasa bersalah karena telah memberinya dua opsi yang memang minim logis. Berpikir merubahnya, meringankannya.

Tidak bisa! Sisi lain hati Chanyeon langsung menepisnya. Keegoisannya hadir lagi. Toh, setiap manusia pasti mempunyai beban derita tersendiri. Termasuk dirinya.

Hingga akhirnya Diana mendadak ingat dengan laku lamunnya itu. Ia cepat-cepat mengoreksi letak duduknya. Berdehem untuk mengusik rasa salah tingkahnya itu dengan iringan maki dalam batin. Menatap lelaki berlesung pipit di depannya yang entah kenapa masih sabar menunggu dan mendadak tidak emosional.

"Setelah kupikirkan, aku lebih memilih opsi kedua, menjadi pembantu rumah tangga di rumahmu selama tiga bulan." Diana membuat keputusan.

"Baik. Itu memang yang lebih aku tekankan. Gomawo."

Diana mengangguk pelan. "Tapi ...."

Chanyeon menaikkan sebelah alisnya.

"Aku juga ingin mengajukan permintaan kepadamu, Oppa." Untuk kali pertama, Diana memyebut "Oppa" di pertemuan ini.

"Permintaan?"

"Hmm. Untuk kenyamananku dalam bekerja."

Chanyeon mengangguk-angguk pelan, seperti sudah tahu saja apa permintaan itu.

"Kau akan bersedia mengindahkannya? Agaknya ini akan sulit bagimu."

"Untuk kenyamanmu bekerja, pasti aku akan mengindahkanya. Jangan khawatir. Itu pasti tidak sulit bagiku."

"Tapi, jika kau tak sanggup mengindahkannya, apa kau mau merubah dua opsi itu dengan sesuatu yang lebih ringan dan ... logis?"

Chanyeon menaikkan sebelah alisnya lagi. Bergeming sesaat.

"Sudah kukatakan, agaknya akan sulit bagimu." Diana menekankan itu lagi dengan sedikit meringis rikuh.

Sempat masih bergeming sesaat, akhirnya Chanyeon menyahut. "Jangan khawatir, aku akan mengindahkannnya, Agassi. Dan aku pula akan mengindahkan permintaanmu jika aku tidak bisa mengindahkan permintaan yang kau ajukan itu." Menjawab dengan mantap. Teriring senyuman pula si Chanyeon.

Diana menimpal senyuman itu. "Baiklah. Sepertinya kau termasuk sosok yang bijaksana, tapi berjanjilah kau akan mengindahkan permintaanku jika kau tak sanggup melakukannya."

"Pasti. Jangan khawatir."

Diana membenahi letak duduknya sebelum mengatakan permintaannya itu. Menghembuskan napas panjang.

"Jadi, permintaanku adalah ...."

__________________

Translate:
Agassi: nona
Mianhae: maaf (non-formal)
Oppa: kakak lelaki (untuk yang menyebut perempuan)
Pabo: bodoh

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Pro